Rabu, 10 Februari 2016

                      
                           JESUS THE BEST                          
(YESUS YANG TERBAIK)

Kita telah belajar buku ibrani.sebagaimana kita telah mulai dengan sedikit preview(tinjauan sekilas melihat seluruhannya)sekarang kita juga akan mengakhirinya dengan bagaikan telah melalui sebuah hutan yang besar sekali dan telah mem[erhatikan banyak sekali dan telah memperhatikan banyak sekali pohon didalam satu persatu sekarang kita tiba di tepi hutan itu marilah kita menoleh kebelangkang dan sekali lagi melihat secara keseluruhan hutan itu

Dalam banyak cara buku ibrani telah menjadi seperti sebuah air muncur yang mengejutkan.buku ini sering kali mengejutkan dengan cara mengambil materi lama dan memberikannya kepada kita untuk kedua kalinya dengan cara yang baru.kita belajar tentang kaabah di padang belantara hanya untuk menemukan bahwa kaabah surgawi yang sesungguhnya.kita belajar tentang korban-korban hanya untuk menyimpulkan bahwa ada satu korban yang lebih besar yang di korbankan sekali untuk semua yang tekah dibuat bagi kita.kita mempelajari daftar orang-orang beriman hanya untuk menyimpulkan bahwa allah ingin kita masuk dalam daftar itu.kita belajar tentang kebatasan akses krapa Allah hanya menyimpulkan bahwa Allah telah membuka bagi kita satu akses yang tidak terbatas menuju tempat tinggalnya melalui yesus

Mungkin akses kepada allah ini boleh dikatakan sebagai sebuah payung yang menaungi semua pekabaran dalam buku ibrani.pada pelajaran pertama sekilas tentang buku ibrani kita telah membicarakan 3 tema yang ada di sepanjang buku ibrani semua tema itu berhubungan dengan konsep akses kepada Allah.

Tema pertama yang kita pelajari adalah superioritas yesus.yesus lebih tinggi dari pada para malaikat dia lebih unggul dari pada tokoh utama dalam perjanjian lama.keimatanNya lebih agung daripada keimamatan harun atau orang lewi pengorbannya lebih baik daripada korban hewan dalam perjanjian lama.kristus memiliki misi yang lebih baik yaitu mendamaikan kita dengan allah hanyala satu oknum yang adalah allah dan manusia yang dapat menjembati jurang yang disebabkan oleh dosa ini.peran yesus untuk mewmbuka jalan bagi kita untuk dapat menghampiri allah dia membawa kita kehadirat allah melalui dia kita memberi jaminan akses ke bilik yang maha suci dalam kaabah surgawi
Tema yang kedua yang telah kita pelajari adalah keberanian dan keyakinan dalam kehidupan kristen.tema ini juga berhubungan dengan konsep akses kepada allah.oleh karena apa yang telah dicapai alllah melalui yesus imam besar agung kita kita boleh datang dengan sepenuh keberanian menghampiri tahta allah.kenyakinan datang kepadaNya itu terjadi oleh karena kita tahu bahwa kita memiliki akses kepada allah dan oleh karena kita tahu bahwa dia menerima kita jika kita datang
Tema yang ketika yang telah kita pelajari adalah tanggung jawab manusia hanya ada satu cara kita berespons kepada apa yang telah allahbuat kita.respon adalah  meghidupkan satu kehidupan satu kehidupan berterima kasih yang memuliakan dan menyenamgkan allah.akses kita kepada allah mengingatkan kita bahwa kita hidup di hadirat allah.dapat engkau bayangkan bagaimana  berhati-hatinya engkau akan bertindak bahkan dalam hal-hal yang spesifik jika engkau diundang makan dengan presiden? Kita sedang menghidupkan seluruh aspek kehidupan kita dihadirat allah alam semesta
Betapa teliti hesarusnya kita hidup.dan juga ketika kita menggenal bagaimana rupa allah itu kita menemukan nghadapan hadirat allahjika kita ingin segala sesuatu yang kita lakukan dengan berjalan baik dia mengundang kita untuk databg menghampari hadiratnya dengan penuh keberanian kita tidak dapat harus berlaku sebagaimana tamu dihadapan tuan rumah melainkan sebagai anak yang di cintai dan merasa nyaman dalam kasi ayahnya dan sebagai seorang anak yang ingin menyenangkan ahati ayahnya satu pertanyaan yang masih membungungkan beberapa orang apakah buku ibrani memandang israel? Jika allah bekerja melalui sistem ada didalam perjanjian lam mengapa itu dalam hal yang negatif?
Buku ibrani tidak pernah menyangkali bahwa allah yang memberikan sistem perjanjian lama itu teteapi buku ini ingin menekankan kesuperiotasan kristus atas perjanjian lama sebagimana yang kita lijhat dapat bpermulaan buku ini,allah dibicarakan dalam perjanjian lama dia berbicara dalam banyank dan berbagai cara.perkabarannya itu positif namun perkabaran itu belum lengkap perkabaran itu dibandingkan.perkabaran itu di bandingkan dengan cara yang sempurna yang datang dalam kristus.
Buku ibrani bukan untuk mengabaikan sistem yang lama  itu,melainkan untuk menunjukan bahwa hanya kristus yang mampu memberikan arti sistem itu apa yang dapat dilakukan oleh perjajijan lam ahanyalah menunjukan apa yang ada pada zaman sekarang.buku ibrani menekankan kebutuhan untuk melihat kebenaran masa kini dalam yesus kristus.ya,allah telah berkerja dalam perjanjian lama tapi itu semua menuntun ada apayang telah yang dia genapi dalam kristus jika  para pembaca yang tidak menyadarinya,mereka akan kehilangan untuk hidup oleh karena itu perbedaan ini harus dinyatakan secara gamblang
Mungkin cara lain untuk meringkas apa yang telah kita temukan dalam buku ibrani adalah untuk melihat kata kunci yang di gunakn di sepanjang buku ini kata-kata kunci akan mengingatkan kita apa perkabaran dalam buku ini.beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
Menghampiri.kita telah mempelajari dengan menggunakan istilah ini sebanyak 7 kali dalam pelajaran kita pada ibrani 12.istilah ini di gunakan untuk menekan kakses kita kepada allah yang dimungkin bagi kita untuk kristus.
Perjanjian.digunakan sebanyak 17 kali dalam buku ibrani,35 kali  dalam perjanjian baru.buku ini menekankan bahwa allah itu setia pada perjanjiannya dan sekarang telah menekan pada perjanjian baru kematian yesusla yang mengesahkan perjanjian ini dan membuat perjanjian ini efektif bagi sekali untuk selamanya.
istilah ini di temukan 8 kali dalam buku ibrani dan 6 kali di buku ibrani dalam perjanjian baru.buku ibrani menggunakan istilah ini untuk menjamin kita bahwa janji tentang perjanjian sabat bukan hanya sesuatu yang kita rayakan disini dari pekan ke pekan,sebagaiman perhentian yang kita alami,oleh karena imam beasr kita telah menyelesaikan perkerjaannya dan berhenti pada hari itu tapi juga dengan melihat kedepan melalui pemeriharan hari sabat,dinama kita harus memeliharannya hingga zaman kekalan allah.lebih baik.

Sebanyak 13 kali digunakan untuk ibrani untuk,sementara hanya sebanyak 19 kali digunakan untuk perjanjian baru.buku ibrani menunjukan kepada kita bahwa yesus itu lebih unggul.melalui dia allah telah menetapkan 1 korban yang lebih baik untuk keselamatan kita.Kesuperioritasan kristus dan pekerjaannya adalah 1 tema utam dalam buku ibrani.
sekarang sebanyak 8 kali buku ibrani menggunakan kata ini untuk menekankan pentingnya untuk membuat 1 komitmen dengan kristus sekarang.
tidak ada satu pun ujian yang terdapat diberikan guru.guru untuk mengukur keberhasilan untuk mempelajari buku ibrani ini. Hanya satu garis dasar untuk mengujinya. Keberhasilan mu tergantung kepada respon hatimu. Kesuksesan itu akan terjadi apabila engkau menerima pengoranan yesus, menghampiri Allah dengan penuh keyakinan, dan menghidupkan satu kehidupan yang berterima kasih di hadirat Allah oleh karena Allah yang ajaib ini telah di gambarkan melalui buku ibrani.


Selasa, 09 Februari 2016

BAB 13
JESUS AND A BETTER LIFE

            Sekarang kita datang pada penghujung buku ibrani. Dalam pasal ini kita menemukan materi yang begitu berbeda dengan semua yang telah kita lihat di buku ini.kita telah memperdebatkan panjang lebar,namun dengan cara yang wajar,babarapa pernyataan sebelum kita menerimanya dengan sungguh2.
Sekarang kita datang pada bagian yang berjenis nasihat nasihat yang nampaknya keseluruhan tidak berkaitan satu dengan yang lain.masing masing berdiri sendiri. Kebanyakan dari nasihat nasihat ini bahan tidak memiliki alas an mengapa nasihat nasihat itu di berikan.kita hanya menemukan suatu perintah sehabis perintah perintah lainnya.
            Mengakhiri satu surat aatau esai dengan penggalan penggalan nasihat seperti ini adalah hal biasa di jaman Grece-roma.buku ibrani mengikuti standar ketentuan buku ini.faktanya adat seperti ini biasanya dinamai paraensis.
Namun kenyataan nya.bahwa ini adalah suatu kebiasaan bukan mengartikan bahwa psal ini tidak penting. Justru kebiasaan ini memberikan kesempatan kepada penulis u tuk menunjukan bahwa apa yang dikatakan kepadanya dapat membuat suatu perbedaan dalam kehidupan. Bagi orang ibrani, jenis-jenis nasihat singkat ini saling mendukung satu dengan yang lainnya untuk menunjukan bentuk kehidupan yang menghidupkan pengucapan syukur kepada allah dan dalam kehadirat Allah. Mari kita selidiki bersama, kita kembali ke bumi untuk membuat  kesimpulan dari apa yang kita buat selama ini.

            ANCHOR TEXT.
            ( Ibr 13:20-21)

                        Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darahnyalah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu yesus.Tuhan kita, kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendakNya. Oleh Yesus kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama lamanya.

            BIBLE SEARCH
                        Kebanyakan dari pasal terakhir buku Ibrani adalah daftar perintah untuk orang Kristen.mari kita mulai dengan melihat perintah perintah itu dan alas an mengapa perintah itu diberikan.kemudian daripada kita mengomentari setiapa nasihat nasihat it, marilah kita mencoba menganalisa keseluruhan gambaran itu untuk melihat gambaran kehidupan Yesus yang bagaimana akan muncul.

1.      Bacalah dengan seksama Ibrani 13:1-19dan daftarkanlah semua perintah yang engkau temukan.
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­________________________________________________

2.      Analisalah daftar ini untuk melihat masing masing hubungan pemerintah itu. Jika seorang Kristen mengikuti semua perintah itu jenis hubungan apa saja dalam kehidupan ini yang dipengaruhi?
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

3.      Analisalah daftar ini untuk menentukan model atau bentuk kehidupan Kristen yang bagaimana yang dapat dicapai jika kehidupan Kristen itu sesuai dengan nasihat nasihat ini.
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
4.      Perhatikan lah apakah engkau dapat menemukan alas an yang di berikan untuk setiap pemerintah yng ada dalam ayat ayat 1-19. Apakah semua alsannya positif,negative atau keduanya?
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
           
5.      Apakah ide utama dalam doa ucapan syukur dalam ayat 20-21?
__________________________________________________________________________________________________________________________________________

6.      Apa yang engkau pelajari tentang situasi orang Ibrani dari sala terakhirnya dalam ayat 22-25
__________________________________________________________________________________________________________________________________________

            Pertama marilah kita melihat pada setiap perintah itu. Perhatikanlah bahwa hamper semua perintah ini memiliki hubungan yang satu dengan yang lainnya. Kenyataanya, perintah perintah ini mencangkup hamper semua aspek dalam kehidupan ini. Hanya dalam beberpa ayat ini  kita mendapat instruksi yang berbicara tentang hubungan kita dengan anggota gereja,pemimpin gereja, guru, orang asing, mereka yang di penjara, dan mereka yang dianiaya, suami/istri  dan tentu saja hubungan kita dengan Allah. Secara jelas kita mendapatkan ide bahwaiman kita berhubungan dengan hal hal keduniawian seperti uang.
            Kita juga memperhatikan bahwa apa yang kita percayai adalah hal penting bagi kehidupan Kristen. Rupanya beberapa orang dari mereka telah hanyut dalam pengajaran yang lainnya dengan peraturan makanan yang sesuai dengan hokum.  ( kita tidak tahu perinciannya tetapi mungkin tidak ada hubungan nya dengan memakan makanan yang sehat , melainkan sejenis peraturan tentang cara makan) . pengajaran legalistic sering dapat menuntun pada sikap yang melukai hubungan dalam jemaat . sangatlah mudah bagi mereka yang memiliki banyak peraturan untuk menjadi orang yang suka menghakimi bagi mereka yang hanya mengikuti sedikit peraturan.
            Bentuk kehidupan yang muncul dari daftar perintah ini adalah satu gambaran orang yang peduli dengan sesama mereka adalah bagian dari masyarakat yang tak terpisahkan yang peduli satu dengan yang yang lainya.namun disaat yang sama, mereka diidentidikasikan sebagai orang yang teraniaya dan terpenjara. Tidak seorangpun yang lepas dari keprhitaniana mereka.
            Memang benar bahwa di dunia yang kompleks dimana kita tinggal sekarang, selalu tidak jelas bagaimana kita menunjukan bagaimana saya dapat membuat perbedaaan dalam dunia yang lias ini?. Kadang bahkan tidaklah mudah untuk mengetahui kapan untuk menata halam rumah kita sendiri.
            Kita tidak selalu tahu kapan dan bagaimana kita harus ikut campur kepada orang lain.namun suatu kehidupan dibentuk pada pengahrgaan pada apa yang Allah telah perbuat kepada kita. Yang akan menciptakan suatu kehidupan yang peduli dan perhatian terhadap sesame siapapun mereka.

            Mari kita melihat juga beberapa perintah yang di buat di pasal 13 ini. Kebanyaka perintah iu disertai dengan alas an khusus. Nampaknya penulis berfikir nasihat nasihat itu secara alamiah berasal dari apa yang telah dikatakannya ( yang telah kita pelajari . tapi kadang alasannya diberikan juga, dan banyak dari alas an itu yang di berikan sehubungan dengan apa yang Allah telah perbuat bagi kita. Dengan kata lain, tindakan kita muncul dari penghargaan apa yang Allah telah perbuat bagi kita. Dan oleh karena itu nasihat ditandai dengan peringatan, khususnya dalam ayat 10-12 ketika pengorbanan Yesus kembali dinyatakan, jika Yesus di bawa keluar lalu di bunuh kita sseharusnya juga mengalami siksaan.
            Beberapa diantaranya berhubungan dengan alsan alasan dan kesempatan yang datang jika menuruti nasihat yang di berikan itu. Hanya ada satu alasasan di mana nasihat negative di berikan. Alasannya di temukan dalam hubungannya dengan perintah untuk menghormati pernikahan dan menjaga ranjang pernikahan agar tidak ternoda. Mungkin penekanan penghakiman hanya terdapat di perintah ini menunjukan betapa pentingnya hubungan pernikahan itu bagi Allah. Sehingga mencemarinya merupakan suatu penghinaan khusus terhadapnya. Engkau seharusnya tidak melihat begitu banyak kasus yang menyedihkan dalam satu keluaraga yang diakibatkan didalam perzinahan dan perceraiaan untuk memahami mengapa Allah peduli dengan pernikahan itu.sekalipun kita terus menerus diserag oleh media masa mulai dari baliho hingga majalah majalah yang mengungkapakna mengenai ide bahwa perzinhan itu menarik dan hamper semua orang melakukannya, kenyataan sesungguhnya perzinahan itu membawa rasa sakit dan penderitaan yang sungguh hebat. Allah menentang apa saja yang menyakiti manusia , dan sangat sedikit hal didunia ini yang memiliki kemampuan untuk menyakiti manusia sedalam pelanggaran yang di sebabkan pelanggaran dalam kesucian pernikahanan. Disisi lain sangat sedikit hal didalam hidup ini yang memiliki potensi untuk memberikan suka cita besar yang diberikan oleh “ mencintai” kesetiaan dalam pernikahan
            Akhir dari paragraph ini menyatakan akhir dari bahwa iman kriatiani membawa suatu perubahan besar dari cara kita hidup dengan sesame kita. Baik mereka yang tinggal bersama kita tetangga kita maupun seluruh dunia. Perkerjaan injil menghancurkan rintangan kesalah pahaman ketidak kesetiaan yang memisahkan manusia. Inilah alasan nya mengapa buku Ibrani berakhir dengan nasihat nasihat prktis bagaimana membantu menjalin hubungan dengan yang lainnya.
            Dalam menelusuru daftar nasihat yang panjang itu, kita menemukan satu doa berkat atau ucapan syukur, berkat seperti itu di temukan hamper di seluruh surat surat orang Kristen.. Alasannya adalah karena surat itu berada di perjanjian baru yang biasanya dilakukan di gereja saat perbaktin pagi. Adalah kegiatan standar untuk membuat doa berkat di akhir ibadah. Nah, doa di akhir surat ini di buat untuk tujuan itu.
Sungguh sesuatu yang mengejutkan karna doa berkat ini berpusat pada apa yang Allah telah buat melalui Yesus. Dia alaha Allah damai yang membawa Yesus kembali dari kematian dan sekarang berkerja melalui Yesus apa yang baik di dalam kita supayya kita dapat melakukan kehendaknya dan menyenangkan Dia.
Beberapa ayat terakhir adalah sala. Kita sudah membahsanya pada pelajaran sebelumnya , jadi kita tidak akan menguraikannya.
           


Bab 12
Jesus and a Better Mountain


Pada akhir pasal 11, kita melihat diri kita sendiri adalah nama yang terakhir tercantum dalam daftar pahlawan iman. Permulaan pasal 12mengalihkan kita secara metafora dari daftar-daftar “orang-orang yang…” ke sebuah lintasan lari di studion atletik. Semua pahlawan-pahlawan iman sebelumnya telah memenuhi stadion tersebut untuk menjadi penonton bagi kita dna menyoraki kita. (Tentunya, bukan berarti buku Ibrani menyatakan bahwa mereka masih hidup sekarang. Kita sudah mempelajari dalam pasal 11: 39 bahwa mereka belum menerima penghargaan. Dengan kata lain, mereka belum berada di neri yang baru itu. Tapi ingat bahwa ini adalah pernyataan bersifat metafora. Dalam pengertian metafora, pengaruh semua orang beriman terdahulu itu masih ada dan menguatkan kita.)
                Jadi kita sekarang berada pada lintasan itu, dikelilingi oleh saksi-saksi iman yang telah pergi mendahului kita.Dan kita sekarang bersiap untuk berlari. Hal pertama yang harus kita lakukan, menurut buku Ibrani, yaitu meninggalkan beban kita. Di jaman Greco Roma para atlet berlari dengan beban dengan maksud untuk melatih tangan dan kaki mereka. Mereka berlatih seperti ini agar pada saat perlombaan datang, mereka akan merasa lebih ringan dan tanpa beban. Buku ibrani membandingkan beban yang digunakan untuk berlatih dengan dosa yang menahan kita di belakang sebagai orang Kristen. Sesudah kita menanggalkan beban kita dan berada di garis start, langkah selanjutnya adalah melihat ke depan garis finish.
                Dalam ayat 2 buku Ibrani menunjukan bahwa,bagi kita, garis finish itu adalah kita harus tetap mengarahkan mata kita pada Yesus Kristus itu sendiri. Dia adalah perintis dan penyempurna iman kita. Dengan kata lain, Dialah oknum yang meletakan iman kita di garis start dan yang akan membawa iman kita sampai pada titik akhirnya. Dan iman itu akan aman dalam tanganNya, karena Dia bukan hanya memikul salib bagi kita namun sekarang telah duduk di sebelah kanan tahta Allah. (inilah tempat hadirat Allah, sama dengan Bilik Maha Suci di Kaabah di Surga.)
                Ayat 3 menunjukan masalah yang dihadapi para pembaca pertama penulis buku Ibran. Sementara mereka menghadapi lintasan perlombaan itu, mereka dicobai dengan kekhawatiran dan putus asa. Kita tahu bahwa kesuksesan dalam atletik bukan hanya oleh karena kemampuan dasar fisik, tapi juga dengan hati. Seorang atlet harus memiliki hati. Hati yang ingin menang.
                Pembaca buku Ibrani yang pertama telah menghadapi penganiayaan, tentu saja tidak sampai menjadi martir. Adalah satu bahaya dimana pencobaan dan kesukaran telah menjadikanmereka letih dan tanpa pengharapan. Jawaban satu-satunya untuk bahaya ini adalah tetap menjaga pandangan mereka terus tertuju kepada Yesus. Buku Ibrani menekankan ini berulang kali.
Dalam ayat 5-11 buku Ibrani mengangkat topic tentang disiplin. Kita semua tahu bahwa untuk berhasil dalam lintasan, sebagaimana usaha keras yang dibuat oleh atlit, disiplin juga haruslah menjadi kunci. Sekalipun dengan menggunakan analogi atlit, kita data menganggap bahw ide tentang disipin yang dibicarakan disini adalah seperti upaya pelatih untuk menggodok pelari agar dapat berhasil dalam perlombaan, dengan jenis-jenis pelatihan yang keras. Namun buku Ibrani nampaknya sedikit memindahkan porseneling dan berbicara tentang disiplin dalam konteks hubungan ayah-anak. Saya pikir ini adalah alasan yang baik. Penulis mengetahiu bahwa disiplin Allah harus dipahami dalam suasana kasih yang seharusnya diberlakukan dirumah. Kenyataannya, kata untuk disiplin yang digunakan disini berasal dari akar kata yang sama dengan yang digunakan untuk kata a little child (anak kecil).
                Pembicaraan dimulai (ayat 5 dan 6) dengan kutipan dari Amsal 3:11-12, yang mengingatkan pembaca bahwa disiplin Allah itu ada karena Ia mencintai anak-anakNya. Dengan jelas buku Ibrani menyatakan bahwa semua penderitaan secara langsung disebabkan oleh Karen keinginan Allah untuk mendisiplin. Banyak kali Allah menggunakan peristiwa-perisitiwa dalam kehidupan yang adalah bagian dari dunia yang berdosa, tapi bukan karena kehendakNya, untuk mengajar kita. Tapi buku Ibrani memberikan kepada umat percaya satu cara yang baru untuk memandang pencobaan dan kesukaran itu. Pencobaan dan kesukaran itu adalah alat yang Allah gunakan untuk mengajari kita. Dan Dia melakukan ini karena Dia mengasihi kita. Kita semua tahu bahwa orang tua yang sepenuhnya menganut filosofi hiduplah dan biarkan hidup itu, menunjukan ketidakpedulian mereka terhadap apa yang mereka lakukan anak-anak mereka sekalipun tindakan anak-anak mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Buku Ibrani mengatakan bahwa engkau mungkin bertanya apakah orang tua seperti ini adalah orang tua yang sungguh-sungguh.
                Mungkin anda berpikir dan menginginkan saat dimana orang tua anda sedikit tidak mengasihi anda, paling tidak untuk beberapa saat ,sehingga mereka tidak peduli dengan apa yang engkau lakukan. Tapi engkau pasti tidak menyukai hai itu terjadi dalam waktu yang lama, bukan ? Dalam hati kita mengetahui bahwa kasih dan kepedulian itu berjalan bersama, dan jika orang tua kita benar-benar tidak peduli, mereka tidak mengasihi kita. Itulah poin yang buku Ibrani tekankan tentang Allah. Sekalipun disiplin itu menyakitkan, kita tahu bahwa kita dapat melaluinya. Oleh karena itu, buku Ibrani mengatakan bahwa kita harus menyerah kepada disiplin Allah, orang tua kita yang sangat mengasihi, dan kemudian mengalami buah-buah yang dihasilkannya(ayat 11).
                Dua ayat terakhir dari bagian terakhir dalam pasal ini membawa kita kembali pada analogi sebuah lintasan perlombaan dan memberikan grafik, gambaran yang tragis dari masalah-masalah yang dihadapi para pembaca pertama buku ini. Bayangkanlah, amphitheater Roma telah dipenuhi dengan penonton. Semua mata tertuju kepada para pelari ketika mereka meninggalkan garis start. Salah satu pelari memiliki tangan dan kaki yang lemah dan jadi pincang bukan karena cacat tubuhnya melainkan karena keputusasaan. Inilah yang gambaran orang yang kehilangan pengharapan. Namun buku Ibrani dengan gembira mengumumkan bahwa hal ini tidak akan terjadi. Pelari yang lemah tidak akan berhenti karena tidak mampu tapi mereka akan disembuhan (ayat 13). Rahasiannya adalah tetaplah menatap kepada Tuhan Yesus.

Another Warning
                Di pasal 6 dan 10 kita telah melihat amaran yang sangat keras yang nampaknya menghilangkan kemungkinan untuk sebuah pertobatan. Di sini di pasal 12, mulai dari ayat 14, kita datang pada amaran yang ketiga dan yang terakhir. Kita telah memperhatikan polanya dalam dua amaran sebelumnyadan contoh yang terakhir ini sangat cocok dengan pola itu. Ingatlah bahwa amaran yang keras nampaknya menyarankan bahwa jika seseorang yang telah menjadi Kristen berbalik, tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat. Namun bagian kedua dari pola ini adalah satu jaminan kembali bahwa pembaca sekarang tidak berada pada poin itu dan harus mengambil kesempatan untuk bertobat. Di sini kita melihat pola yang sama dinyatakan kembali.
                Dalam ayat 14-17 para pembaca diperingatkan, dengan pertolongan contoh dari Esau, untuk tidak menjadi ornag yang tak bermoral dan tak kenal Allah. Esau menjual hak kesulungannya hanya untuk sedikit makanan. Setelah itu, sekalipun dengan penuh airmata ia memohon untuk satu pertobatan dan untuk menerima berkat itu, namun tidak ada kesempatan lagi. Beberapa tindakan secara sederhana memiliki konsekuensi yang tidak dapat terelakkan, tidak dapat kembali seperti semula ketika tindakan itu belum terjadi , sekalipun oleh pertobatan. Jika engkau membunuh seseorang, sejumlah maaf yang besar sekalipun tidak akan mengembalikan kehidupan seseorang yang telah mati itu. Engkau dapatbertobat dan diselamatkan, tapi engkau tidak dapat mengembalikan konsekuensi dari tindakanmu itu. Ini seharusnya menjadi amaran yang serius dalam mengambil satu keputusan. Namun sekali lagi, dalam pasal ini, kita melihat ada panggilan untuk sebuah pertobatan, yang menyatakan bahwa para pembaca bukanlah berada pada situasi yang tanpa pengharapan. Disinilah penulis mengangkat analogi yang lain lagi, perbandingan antara dua bukit.

A Tale of Two Mountains
Ayat 18 hingga 24 membandingkan dua bukit. Yang pertama tidak diberi nama, tapi jika kita mengenal cerita dalam buku keluaran dan cerita pemberian hukum dalam Perjanjian Lama, kita tidak akan kesulitan untuk memahami bahwa itu adalah bukit Sinai. Tentunya, bukit itu terletak di suatu tempat sebelah Timul Laut Mesir. Disinilah Allah memberikan hukum itu.
                Poin yang ditekankan buku Ibrani tentang bukit Sinai sama dengan yang dipelajaran ini diberikan dari kenyataan bahwa kita kehilangan akses pada hadirat Allah dalam kaabah di bumi. Ingat bahwa dalam kaabah dibumi, para umat dipisahkan dari hadirat Allah karena hanya imam besar yang dapat memasuki Bilik Maha Suci, dan juga hanya setahun seali. Demikian juga, dalam pengertian yang sama, keseluruhan pengalaman yang terjadi di gunung Sinai menekankan jarak dari Allah. HadiratNya sangatlah tidak dapat dijangkau dimana bahkan sekalipunhanya hewan yang menyentuh gunung itu, haruslah dilontari dengan batu. Dan bahkan sekalipun Musa gemetar ketakutan. Untuk “Menjangkau” atau datang mendekati gunung seperti itu adalah sesuatu yang sangat menakutkan.
                Tapi menurut ayat 22, para pembaca sekarang tidak perlu datang ke bukit Sinai. Mereka harus datang ke bukit Zion, bukit kaabah Yerusalem. Tapi bukanlah Yerusalem di bumi ini. Melainkan Yerusalem sorgawi. Umat ini memiliki hak istiewa untuk menghampiri hadirat Allah, Hakim segala sesuatu, oleh karena Yesus, perantara perjanjian baru, Imam besar dan saudara mereka yang berada disana. Sekali lagi buku Ibrani. Menggambarkan orang Kristen seperti sudah berada di bukit Zion, sudah berada di hadirat Allah. Inilah akses atau jalan kita menghampiriNya yang diinisiatifkan untuk kita dan yang kita nikmati sekarang.
Faktanya, kata Grika yang diterjemahkan approach atau come dalam ayat 18 dan 22 adalah kata yang menarik dalam buku ini. Kata itu dapat digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk tindakan seperti memindahkan sesuatu. Tapi kata itu juga dapat digunakansebagai salah satu istilah teknis untuk menjangkau/menghampiri dewa melalui korban atau persembahan di kuil. Buku Ibrani menggunakan kata itu berkali-kali, dan mencapai puncak penggunaan lebih banyak pada paragraph di pasal ini.
                Pertama kali kita menemukan kata ini dalam buku Ibrani adalah di bagian awal kita mendiskusikan tentang kaabah dalam pasal 4:16, dimana kita pertama kali diundang untuk menghampiri tahta kasih karunia dengan keyakinan karena Yesus adalah Imam Besar kita. Dan kita menemukannya lagi dalam pasal 7:25, dimana kita dijamin bahwa Kristus mampu menyelamatkan semua yang datang kepada Allah melalui Dia. Dalam Pasal 10 :1 kita menemukan bahwa hukum korban yang diulang-ulang di kaabah bumi tidak dapat menyempurnakan mereka yang menghampiri Allah melalui korban, dimana Ibrani 10:22 mengakhiri pekabaran tentang kaabah dalam buku Ibrani dengan mengatakan kepada kita bahwa melalui Kristus kita dapat mendekati Allah dengan keyakinan. Ibrani 11:6 mengatakan bahwa untuk menghampiri Allah, kita harus percaya bahwa Dia ada dan menghargai mereka yang mencariNya. Akhirnya sekarang kita melihat lagi perbandingannya, Dibukit Sinai untuk menghampiri Allah adalah sesuatu yang menakutkan dan menggetarkan. Tapi sekarang orang Kristen dapat menghampiri hadirat Allah di bukit Zion.
                Tema menghampiri Allah atau akses kepada Allah adalah pokok pembicaraan yang sangat jelas dalam buku Ibrani. Berulang-ulang kali kita diberitahukan tentang cara yang baru dengan berbagai metafora yang menyatakan bahwa kita memiliki keistimewaan untuk menghampiri Allah secara langsung, bukan dengan gemetar dan ketakutan, tapi dengan keyakinan dan jaminan.
                Ini adalah kabar baik terutama ketika kita hidup di satu zaman dimana dua kata yang paling ditakutkan adallah “access denied”. Pernahkah anda melihat ini di layar dan engkau menjadi panik? Bayangkan jika engkau berada di tempat yang jauh dari orang-orang yang dekat dengan engkau, dan engkau membutuhkan uang. Namun ketika engkau hendak mengambil uang dari ATM, engkau hanya menemukan kata “akses ditolak” pada layar. Atau ketika engkau hendak menghubungi orang-orang yang engkau butuhkan, engkau hanya mendapati tulisan pada layar “akses ditolak”  di HPmu. Betapa suatu kabar baik bagimu bahw Allah tidak pernah menolak aksesmu kepadaNya.
                Namun kabar baik ini seharusnya tidak menina-bobokan kita Mengabaikan kesempatan seperti ini dapat berarti kematian dan kehancuran. Buku Ibrani menekankan bahwa mereka yang menolak Allah di gunung Sinai tidak akan luput dari hukuman. Betapa berbahayanya lagi jika kita menyia-nyiakan kesempatan yang besar yang diberikan kepada kita.
                Pada akhir pasal ini, buku IBrani memberikan metafora yang mengejutkan karena dengan gamblang menyatakan idenya. Di Sinai Allah menggungcang bumi, tapi para nabi mengatakan bahwa akan datang saatnya dimana Allah akan mengguncangkan langit dan bumi. Guncanggan terakhir ini adalah untuk mendirikan kerajaan yang tidak terguncanggkan, kerajaan kemana kita diundang (ayat 25-29)
Beberapa alas an utama untuk kesedihan di atas bumi ini terjadi oleh karena kehilangan kesempatan. Beberapa kesempatan tidak dapat datang dua kali. Dalam bukunya berjudul “Liga Negro” (yang kemudian disebut) Baseball,  dimana pemain Afrila-Amerika bermain karena mereka tidak diizinkan bermain pada ajang perlombaan besar,Buck O’ Neil menceritakan banyak kisah tentang kehilangan kesempatan. Sungguh menyedihkan bila memikirkan bahwa ada begitu banyak pemain besar yang dapat menraih rekor pada ajang perlombaan besar jika saja mereka diijinkan bermain pada tingkat kemampuan mereka itu. Engkau mungkin pernah merasakannya. Engkau tahu bahwa engkau mampu mencapai rekor dalam suatu perlombaan jika saja engkau yang dipiih untuk ikut serta dalam perlombaan tersebut, namun sayangnya, engkau tidak terpilih. Engkau kehilangan kesempatan. Coba renungkan betapa menyedihkan jika orang yang dipilih menggantikan engkau tidak mencapai rekor, kalah. Betapa menyedihkan namun engkau telah kehilangan kesempatan itu. Atau engkau mungkin telah dipilih namun oleh karena masalah pribadimu, engkau tidak bisa menang. Betapa menyedihkan kehilangan kesempatan seperti itu.
                Kita punya banyak kesempatan-kesempatan besar untuk menghampiri Allah alam semesta. Bagaimana mungkin kita mengabaikan kesempatan seperti itu,lalu? Dan meskipun kita tahu bahwa Allah selalu murah hati, namun kita tidak tahu apa yang akan terjadi kepada kita besok hari.
                Nah, apa yang dapat kita lakukan? Ibrani 12:28 mengatakannya dengan sederhana. Hanya satu hal- mengucap syukur. Karena Mengucap syukur kepada Allah adalah mempraktekkan pengabdian yang Dia inginkan. Apa lagi yang dapat kita lakukan bagi Allah, karena kita telah menerima karunia yang ajaib dengan percuma dari Allah alam semesta yang besaritu selain dari pada mengucap syukur dengan rasa hormat dan kagum dna menunjukan sikap hormat lita melalui kehidupan yang mengucap syukur? Pada awal pasal (ayat 10), penulis berbicara tentang disiplin yang Allah berikan , yang menuntun kita untuk merasakan kesucian Allah. Menjadi suci berarti menjadi milik Allah, menjadi bagian dari keluargaNya, menjadi bagian dalam keselamatanNya. Itu suatu penghormatan, rasa terima kasih kita kepada Allah.
                Perhatikanlah bahwa sekalipun kita harus menanggalkan  sikap takut dan gemetar di hadapan Allah seperti yang ditunjukan di Gunung Sinai dan datang dengan keyakinan menghampiri bukit Zion dimana Dia tingggal, namun kitapun tetap masih harus memiliki perasaan kagum dan hormat kepada Allah. Dia adalah Allah, dan kita adalah manusia. Kenyataan inilah yang membuat Allah berkehendak memberikan akses untuk kita menghampiri hadiratNya yang lebih mengangunggkan itu.




Jika kita menggabungkan beberapa analogi dalam pasal ini, gambarannya akan jadi sebagai berikut. Kita berada dalam suatu perlombaaan. Kita telah menanggalkan beban dosa yang dapat menyebabkan kita lemah, dan kita sementara berlari menuju garis finish. Pelatih kita, yang juga adalah Bapa Sorgawi kita, sangat tau dorongan apa dan disiplin apa yang harus diberikan kepada kita agar kita sukses, karena Dia sendiri telah memikul Salib itu untuk kita. Tujuan kita dalam perlombaan ini adalah bukit Zion, Yerusalem Surgawi. Kristus sudah mempersiapkan jalan bagi kita untuk mencapainya. Kita dapat saja kehilangan semangat dan menolak untuk maju terus. Tapi jika kita melakukannya, konsekuensinya sangat mengerikan. Namun jika kita terus menjaga pandangan kita tetap menatap kepada Yesus dan membiarkan Dia menuntun kita, kita dapat mencapaiNya. Tanpa keraguan. Peran kita adalah untuk selalu mengucap syukur dan terus berlari.
 
 











                Pasal terakhir dalam buku Ibrani, yang kita akan pelajari pada lesson berikutnya, akan membentuk satu kehidupan yang tahu mengucap syukur kepada Allah.



Bab 11
Jesus and a Better Country
Ibrani 11:1-40

Jika engkau pergi ke rak-rak sebuah perpustakaan – mungkin saja termasuk perpustakaan yang ada si sekolahmu – engkau akan menemukan satu bagian buku-buku yang judulnya dimulai dengan kata Who’s who in… Ini adalah buku referensi bibliologi yang mendaftarkan orang-orang terkemuka dalam satu wilayah geografi yang diberikan atau satu bidang usaha. Buku-buku itu seperti Who’s Who in America? Hingga Who’s Who Among College and University Students? (sejenis buku bulletin sekolah, buku tahunana sekolah, dll) Setiap tahun buku itu akan bertambah dengan nama-nama siswa selanjutya yang dicatat dalam volue berikutnya. Coba engkau mengambil salah satu buku itu dan membacanya. Engkau mungkin akan mendapati buku itu membosankan karena hanya mencantumkan fakta-fakta yang tidak berhubungan denganmu. Seperti tanggal lahir, tempat lahir,gelar yang dicapai, penghargaan yang diberikan, dll. Juga karena buku itu bukan buku terlaris yang dijual di mall di kotamu, mungkin hanya ada diperpustakaanmu dan digunakan sebagai referensi mereka yang membutuhkan data orang-orang yang tercatat dalam buku itu. Sesuatu yang menarik jika engkau mendapati buku itu mencantumkan namamu. Tapi jika namamu tidak tercantum di sana, buku itu akan tidak relevan menurutmu.
Dalam Pelajaran ini kita dapat menyebutkan bahwa pasal ini adalah pasal tentang “orang-orang yang beriman.” Namun daftar ini bukan hanya meliputi fakta-fakta biografi. Pasal ini menceritakan  tentang tindakan-tindakan yang menarik dari orang-orang yang dicantumkannya. Karena itu pasal ini tidak membosankan. Juga tidak menakutkan. Ketika kita memahami pekabarannya, kita akan menemukan pekabaran rohani yang paling menguatkan dalam Alkitab.Dan akhirnya, daftar ini bukanlah tidak relevan, karena ternyata, engkau termasuk di dalamnya. Sebagaimana yang akan kita lhat pada akhirnya engkau ada dibagian ayat terakhir. Karena itu marilah kita melihat pasal ini sebagai sesuatu yang menarik, meguatkan , dan adalah pasal yang relevan bagimu secara pribadi.
Sementara kita belajar pasal ini, kita akan melihat bagaimana tindakan berorientasi pada pencapaian iman itu sesungguhnya. Orang-orang yang diidentifikasi dalam pasak ini mau melangkah dan bertindak dalam kepercayaan adalah kunci iman dalam pasal 11. Inilah sesungguhnya iman itu dalam buku ibrani.
Berjalan menuju ke tempat yang baru tanpa mengetahui kemana engkau pergi. Membangun sebuah bahtera saat belum pernah ada hujan. Meninggalkan kekayaan Msir yang tak terhingga untuk memimpin sekelompok orang perbudakan.
            Pasal ini mulai dengan membicarakan tentang iman. Pasal ini memberikan satu definisi secara jelas tentang iman itu. Melainkan, menguraikan hal-hal yang penting tentang iman. Sayangnya KJV (Alkitab versi King James)tidak menyalurkan dengan sebaik-baiknya ide yang ada di dalam buku Ibrani, namun tidak ada kesalahan dalam penerjemahan versi itu. Pada tahun 1611, itulah hal yang terbaik yang dapat mereka lakukan. Dalam literature bahasa Grika yang mereka peroleh, arti satu-satunya yang mereka temukan dari kata yang digunakan buku Ibrani ayat 1 adalah “Substance(=pokok).” Sejak waktu itu para arkeologi telah menemukan lebih banyak dokumen bahasa Grika. Ini bukan hanya dokumen literal seperti uraian filosofikal tapi juga dokumen sehari-hari seperti yang engkau temukan di keranjang sampah atau kotak simpanan. Dalam literature itu kata ini ditemukan dengan arti yang khusus. Kata itu merujuk pada akte untuk satu bagian kepemilikan. Akte itu bukanlah miliknya sendiri, tapi akta itu menjamin seseorang bahwa dia memiliki hak atas kepemilikan tersebut.
            Jika orang tua anda memiliki harta, misalnya sebuah ladang yang berlokasi jauh dari tempat tinggalmu sekarang. Sekalipun mereka tidak melihat ladang itu, tapi oleh karena akta tanah yang mereka miliki,mereka akan yaki bahwa mereka memiliki hak atas ladang itu. Demikianlah pengartian dari kata yang digunakan buku Ibrani untuk menjelaskan tentang iman.
            Iman adalah akta kita yang menjamin kita untuk apa yang kita harapkan dalam Kristus. Satu dunia yang baru yang kita miliki, sekalipun kita belum dapat melihatya sekarang. Melalui iman kita memiliki jaminan bahwa janji Kristus itu benar dan masa depan adalah milik kita jika kita berada di dalam Dia. Iman, oleh karena itu, adalah akta atau keyakinan yang menamin apa yang kita harapkan.
            Dalam ayat-ayat di awal Ibrani pasal 11, kita belajar beberapa kebenaran lain yang penting tentang iman. Dalam ayat 2 kita mendapati bahwa iman adalah cara dimana nenek moyang kita mendapatkan persetujuan dari Allah. Ini selalu menjadi metode keselamatan Allah. Ayat 3 menunjukan kepada kita bahwa Allah adalah pencipta melalui iman. Kita percaya bahwa Dia dapat membuat sesuatu kelihatan dari yag tidak kelihatan.
Sekalipun begitu, dalam ayat 6, kita mendapatkan gambaran ang paling jelas tentang apa iman itubagi penulis buku Ibrani. Itu melibatkan dua spesifik bagaimana orang percaya meyakini Allah. Pertama, orang percaya meyakini bahwa Allah ada, dan kedua, umat percaya meyakini bahwa Allah bukan hanya ada tapi juga meyakini bahwa Ia satu jenis Allah tertentu. Dia adalah Oknum yang menghargai mereka yang mencari Dia. Dengan kata lain, Dia adalah Allah yang peduli kepada mereka yang sangat tertarik kepada-Nya. Tapi akan menjadi sebuah kesalahan jika kita berpikir bahwa iman hanyalah istilah mental. Karena dalam buku Ibrani, seseorng yang sungguh-sungguh percaya Allah seperti ini adalah seseorang yang mau melangkah dan menuruti Allah yang ini kemanapun Dia menuntunnya. Iman bukan hanya sekedar sikap (Atitude). Lebih dari itu, iman adalah kemauan untuk bertindak dan mengikuti Allah kemanapun Ia panggil, sekalipun tujuan akhirnya tidak jelas.
            Wllian Johnson telah menggunakan gambaran seorang pengembara untuk menjelaskan apa yang sedang dibicarakan oleh buku Ibrani disini dan di seluruh bagian buku itu. Dia menunjukan bahwa ketika berangkat dalam pengembaraan rohani, empat elemen termasuk di dalamnya. Pertama, satu pemisahan atau meninggalkan rumah; kedua, satu perjalanan menuju ke tempat suci; ketiga, satu maksud yang pasti untuk sebuah perjalanan; dan keempat, ada kesukaran sepanjang perjalanan. Menurut buku Ibrani, keseluruhan kehidupan Kristen bagaikan pengembaraan. Orang Kristen harus menyadari bahwa dunia ini bukanlah rumah mereka, dan mereka mulai terpisah secara rohani dari nilai-nilai dunia ini dalam mengejar sebuah kota yang lebih baik, yang pendiri dan pembuatnya adalah Allah. Mereka memikul kesukaran sementara mereka berjalan menuju kota ini dengan maksud untuk membangun persekutuan dengan Allah. Orang Kristen menjadi satu Komunitas religi yang berangkat menuju ke satu tempat yang suci, satu kota yang baru. Iman yang di angkat dalam Ibrani 11 adalah satu iman yang mau meninggalkan jalan yang nyaman di dunia ini dan berjalan menuju kota Allah yang baru.
            Namun, sebagaimana yang kita lihat, sekalipun sementar mereka yang berjalan melalui tanah Immanuel menuju ke kota yang baru, orang Kristen sudah menikmati akses ke hadirat Allah dengan keyakinan . Ini sudah memberikan kepada mereka satu cicipan dari kehidupan di kota yang baru itu. Boleh jadi ada kesukaran , tapi itu dapat dipikul oleh karena ada keyakinan bahwa Allah ada bersama mereka. Keyakinan inilah yang memotivasi mereka untuk melangkah dalam iman dan menuju ke kota yang baru itu.
            Kita juga mengetahui bahwa kemauan orang-orang yang beriman ini untuk mengikut Allah dan hidup dalam hadirat-Nya sementar mengikutiNya menuju ke kota yang baru tidaklah sinonim (sama arti) dengan kesempurnaan tanpa dosa. Ibrani 11 hanya menekankan iman dari tokoh-tokoh yang didaftarkan. Kita dapat membaca kisah mereka dalam perjanjian lama , seperti yang dimiliki oleh para pembaca pertama buku ini. Dan kita mengetahui bahwa , sekalipun mereka adalah orang-orang beriman , hamper semua orang-orang ini berbuat kesalahan. Sekalipun dia telah menunjukan imannya dalam membangun bahtera, Nuh mabuk. Abraham berdusta tentang istrinya dan mengatakan dia adalah saudaranya. Musa membunuh seseorang,Rahab adalah seorang pelacur. Jika engkau membuat daftar dari orang-orang dari perjanjian lama mengenai orang beriman akankah engkau  memasukan Simson dalam daftarmu? Ia menghidupkan kehidupan yang bermoral lemah, namun ia masuk dalam daftar di buku Ibrani.
            Semua ini mengatakan sesuatu yang penting bagi kita tentang makna dari pasal ini. Disinilah pasal ini menjadi dua dalam bagian pasal ini, satu di bagian tengah dan satu di bagian akhir. Mari kita lihat dalam ayat 13-16, 39 dan 40 untuk menemukan inti dari pekabaran Ibrani 11.
            Mulai dari ayat 13, kita menemukan ringkasan pegalaman dari orang-orang beriman ini. Pertama, mereka semua mati tanpa sungguh-sungguh menerima janji yang mereka harapkan. Namun mereka mangakui bahwa mereka adalah orang asing di atas muka bumi ini dan melangkah untuk mencari satu negri tampat tinggal yang baru. Mereka mencari negri yang lebih baik dn mereka mau mengikuti Allah dimanapun Dia menuntun mereka.

            Jadi, bagaimana Allah merespon terhadap iman seperti itu? Jawabannya ada dalam ayat 16: “Oleh karena itu Allah tidak malu untuk disebut Allah mereka; sebaliknya dia telah menyediakan satu kota bagi mereka” (NRSV). Ini adalah kata-kata yang paling menguatkan. Allah tidak malu disebut Allah Abraham, Isshak, Yakub. Betapa Allah itu baik.

            Di awal Lesson 1 menyebutkan bahwa ada saat dimana anak-anak kita membuat kita malu. Terkadang kita merasa malu bahkan terhadap orang-orang yang sangat dekat dengan kita.

Tapi Allah tidak malu. Ia tidak malu disebut Allah Abraham dan Simson. Mungkin jika kita Allah, kita tidak ingin namamu yang agung disamakan dengan orang-orang berdosa. Tapi Allah sering menyebut namaNya dengan Allah Abraham, Ishak, Yakub. Bahkan Ia menyediakan satu kota untuk mereka.

            Ketika kita melihat pada akhir pasal itu, pekabaran itu akan lebih baik dan lebih mengutkan. Kita sudah melihat dalam ayat 13 bahwa semua orang-orang beriman yang besar ini mati tanpa menerima janji atau mencapai kota yang dijanjikan. Pada pasal itu kita dapat menemukan mengapa. Engkau lihat, Allah memiliki ide yang lebih baik. Perhatikan ayat 39,40 (NRSV) :

            Yet all these, though they were commended for their faith, did not receive what was promised, since God had provided something better so that they would not,apart from us, be made perfect.
            Mereka belum menerima warisan yang dianjikan karena Allah ingin melibatkan kita juga dalam daftar itu. Ini bukanlah sekedar daftar sesuatu yang terjadi di masa lampau. Itu bukanlah buku yang berjudul Orang-orang beriman dalam Perjanjian Lama atau bahkan Orang-orang yang beriman dalam Alkitab. Itu adalah Orang-orang beriman sekarang sampai pada saat itu. Allah ingin kita terlibat di sana. Allah memandang kepadamu dan berkata, “Aku tidak malu disebut sebagai Allahmu.” Allah memanggil kita untukmenjadi pengembaraanNya di jaman modern ini yang melangkah dalam iman dan mengikuti kemanapun Dia menuntunmu. Ketika kita melakukannya, kita menjadi sama dengan Abraham atau Musa sebagai bagian dari Ibrani pasal 11. Allah tidak malu disebut Allah kita juga.

            Begitu sering dosadan kegagalan kita menghalangi kita dari pemahaman akan pekabaran ini Kecenderungan alamiah orang berdosa adalah menghindar dari Allah dan bersembunyi. Sama seperti yang dilakukan oleh anak kecil saaat berbuat kesalahan atau ada kekurangan. Mereka bersembunyi dan takut ketahuan. Mereka berharap dengan itu mereka dapat menghindari keselahan mereka. Padahal, itu salah. Engkau malu jika kelemahan atau kesalahanmu itu diketahui oleh orang lain dan mungkin mereka tidak akan mengakui engkau sebagai sahabat mereka.

            Mungkin kita sering ingin bersembunyi dari Allah karena kita meras bahwa kelemahan kita akan Nampak dan kelihatan olehNya. Tapi Ibrani11 menunjukan kepada kita bahwa Allah tidak malu menjadi Allah Abraham,Ishak,Yakub. Dia tidak malu disebut Allah Daud, atau Rahab atau Simson. Dia tidak malu disebut Allahmu. Dia sedang menyediakan satu kota untukmu. Dia hanya memintamumelangkah dalam iman,mengikutiNya, dan menjadi bagian dari daftar orang-orang beriman yang akan terus menerus bertambah.


LESSON 9
JESUS AND A BETTER COVENANT Ibrani 8:1-9:14
(Yesus dan Satu Perjanjian Yang Lebih Baik)

Covenants in the old testament (perjanjian-perjanjian dalam perjanjian lama)
  Sekarang nampaknya kita menggunakan kata covenant (perjanjian/akta) hanya pada persetujuan tentang harta milik.Contohnya akta tanah,akta rumah,dll. Di zaman perjanjian lama, istilah covenant digunakan untuk semua jenis persetujuan antar sesama. Jika orang membuat persetujuan, mereka biasanya membuat sesuatu yang membuktikan pengukuhan perjanjian itu. Salah satu upacara yang dilakukan dalam mengukuhkan sebuah perjanjian adalah dengan mengorbankan seekor hewan,seperti yang kita lihat dalam kejadian 15,dimana Allah membuat perjanjianNya dengan Abraham. Tindakan lain yang mungkin dilakukan,mendirikan tumpukan batu(Yakub dan Laban dalam kejadian 31) atau mengucapkan janji(Daud dan Yonatan dalam 1 samuel 18).
Elemen dasar dari perjanjian Allah dengan Israel adalah Dia akan menjadi Allah mereka,dan mereka akan menjadi umatNya. Orang Israel menyetujui perjanjian itu dengan berjanjiuntuk melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Allah(keluaran 24:7).Namun sejarah umat allah dalam perjanjian lama berisi rentetan kegagalan yang terjadi berulang-ulang mengakhiri perjanjian mereka, sementara itu Allah tetap berkomitmen untuk menyelamatkan umatNya dari kegagalan mereka dan dari kehancuran yang diakibatkan oleh kegagalan mereka itu.
Para nabi, yang menyatakan kegagalan Israel dan memprediksikan penaklukan yang menghancurkan mereka, pada saat yang sama mengabarkan janji anugerah Allah dan kerinduanNya untuk membuat perjanjian yang kekal dengan mereka, seperti yang dibuatNya dengan Abraham dalam kejadian 15. Ketika yesaya berbicara kepada orang Israel tentang penawanan dan penaklukan mereka,dia juga berbicara tentang pemulihan dengan berkata:

Sedengkanlah telingamu dan datanglah kepada Ku;dengarkanlah,maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud (Yesaya 55:3)
Yehezkiel juga menjanjikan:
Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka,dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka.Aku akan memberati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudus-Ku ditengah-tengah mereka untuk selama-lamanya.(Yehezkiel 37:26)
Kaabah Allah adalah bagian yang penting dari perjanjian itu,karena itu adalah symbol yang membuktikan hadirat Allah dengan mereka.
 Nabi Yeremia yang menggunakan kata new covenant (perjanjian baru)untuk menyatakan janji Allah.Ayat nubuatan yang diambil dari yeremia 31:31-34 inilah yang buku Ibrani jadikan ayat utama untuk mengajarkan tentang satu perjanjian baru yang disamakan dengan pekerjaan Yesus Kristus di kaabah surga. Itulah yang akan kita pelajari disini.

Historical and Linguistic Background (Latar Belakang Sejarah dan Bahasa)
        Sebelum kita beralih ke buku Ibrani itu sendiri untuk melihat apa yang dapat kita pelajari dengan perjanjian baru itu, kita akan akan coba melihat aspek yang mungkin membingungkan dari pelajaran yang akan kita pelajari. Dalam Ibrani 8-10 kita mendapat sejumlah referensi untuk kaabah.Beberapa kaabah menunjukan kaabah dibumi sementara yang lain menunjukan kaabah disurga.Kaabah di bumi yang dicatat buku ibranibiasanya merujuk pada sejenis tenda yang bisa dibawa kemana-mana(portable tent) yang orang Israel pertama miliki di padang gurun Sinai bukan pada struktur permanen yang kemudian ada di Yerusalem.Kenyataannya, buku Ibrani sering merujuk kaabah sebagai “kemah”.Bagian buku Ibrani yang kita pelajari ini juga sering membedakan antara dua bagian dalam kaabah,Bilik suci dan Bilik Maha Suci. Tapi bahasannya tidak selalu jelas,dan perbedaan penerjemahan tidak hanya menerjemahkan dalam kata yang berbeda namun juga interpretasi yang berbeda-beda.
  Buku Ibrani mengguakan dua istilah utama untuk kaabah dalam bagian yang sedang kita pelajari. Kata pertama adalah dalam bahasa Grika skene, atau tent (kemah). Kata yang kedua kata sifat hagia, yang berarti “holly(suci)”,tapi jika digunakan sebagai kata benda ,kata ini merujuk kepada sebuah tempat suci (a holly place). Masalahnya adalah penulis buku Ibrani tidak terlalu konsisten.Istilah yang sama dapat merujuk kepada keseluruhan kaabah atau salah satu bagian dari kedua bagian dalam kaabah. Kata sifat first (pertama) dapat berarti bagian yang pertama dalam kaabah atau kaabah yang pertama (dibumi). Kadang buku Ibrani menggunakan bahasa yang pengertiannya tersirat,seperti ketika dia berbicara tentang “holy of holies (suci dari yang suci)”(NRSV)untuk bagian dalam (bagian kedua, Bilik Maha Suci)dalam 9:3. Namun karena penerjemahan modern tidak setuju dengan arti kata itu di beberapa bagian, maka begitu sulit bagi pembaca untuk memahaminya.

  Dua bagian ini akan menolong kita memahami penggunaan kata Grika yang diterjemahkan, dalam Ibrani pasal 8-10.
1. Penggunaan kata Grika skene
Ayat
NIV
NRSV
Interpretasi
8:2
Tabernacle
Tent
Heavenly sanctuary
8:5
Tabernacle
Tent
Earthly Sanctuary
9:2
Tabernacle
Tent
Holy Place of earthly Sanctuary
9:3
Room
Tent
Most holy place of earthly Sanctuary
9:6
Outer Room
Tent
Holy place of earthly Sanctuary
9:8
Tabernacle
Tent
Earthly Sanctuary
9:11
Tabernacle
Tent
Heavenly Sanctuary
9:21
Tabernacle
Tent
Earthly Sanctuary


2.Penggunaan kata Grika hagia
              
Ayat
NIV
NRSV
Interpretasi
8:2
Sanctuary
Sanctuary
Heavenly sanctuary
9:1
Sanctuary
Sanctuary
Earthly Sanctuary
9:2
Holy place
Holy place
Holy place of earthly Sanctuary
9:3
Most Holy Place
Holy of Holies
Most Holy place of earthly Sanctuary
9:8
Most Holy Place
Sanctuary
Heavenly sanctuary
9:12
Most Holy Place
Holy place
Not clear-either heavenly sanctuary or Most Holy place of heavenly Sanctuary
9:24
Sanctuary
Sanctuary
Earthly Sanctuary
9:25
Most Holy Place
Holy place
Most Holy place of earthly Sanctuary
10:19
Most Holy Place
Sanctuary
Most Holy place of earthly Sanctuary



Pasti engkau bingung melihat bagan ini,apalagi saat engkau melihat kata yang sama diterjemahkan dalam cara?kata yang berbeda. Tapi sementara kita belajar kita akan mengerti mengapa demikian. Kita akan melihat bagaimana penulis memberikan indikator tentang apa yang sedang ia bicarakan.

The New Covenant in Hebrews (Perjanjian baru dalam buku Ibrani)
Di awal pasal 8, penulis berhenti untuk mengingatkan kita tentang poin utama yang sedang ia buat.Tujuannya bukanlah memberikan kita informasi teknis tentang keimamatan dan kaabah dan korban; melainkan menunjukan kepada kita betapa kita memiliki imam besar yang ajaib dan memiliki perbedaan yang dibuatNya dalam kehidupan kita.Dia sedang menulis tentang Yesus.
  Namun demikian, Dia juga memasuk-kan peralatan praktis disana untuk meletak-kan dasar tentang apa yang Yesus lakukan bagi kita.Dalam beberapa ayat diawal pasal 8, dia sedang mengangkat secara rinci apa yang dia singgung di pasal 7:22-Yesus adalah jaminan satu perjanjian yang lebih baik. Hal yang pertama sehubungan dengan perjanjian yang lebih baik ini adalah pekerjaan Yesus sebagai imam bukan terjadi di kaabah dunia yang dibuat dengan tangan manusia melainkan di kaabah surge. Sesuatu yang tidak dibuat oleh manusia.Para imam di bumi memberikan persembahan dan korban mereka di kaabah di bumi yang hanyalah satu bayangan atau sketsa dari apa yang ada di surga.Inilah bukti dari fakta bahwa kaabah di bumi dibuat sesuai dengan pola yang Allah tunjukan kepada Musa.
    Menurut buku Ibrani, perjanjian itu mengantarai bayangan yang ada di bumi bukan apa  yang sesungguhnya ada dalam pikiran Allah. Jika apa yang perjanjian pertama buat dengan kaabah di bumi telah sempurna,  Allah tidak perlu memberikan perjanjian yang baru.Tapi bahkanpun dalam perjanjian lama ,Allah telah membicarakan dengan perjanjian yang baru.Buku Ibrani kemudian mengutip(8:8-12)dari Yeremia 31:31-34, Kutipan terpanjang dari perjanjian lama yang ada dalam perjanjian baru.
      Dalam bagian pasal ini Yeremia mengatakan bahwa Allah akan membuat satu perjanjian baru dengan umatNya sebab mereka tidak memelihara PerjanjianNya yang pertama.Namun kali ini dia akan menaruh hukum (taurat)-Nya dalam pikiran mereka dan menuliskan dalam hati mereka.Mereka masing-masing akan mengenal Allah secara pribadi.Dia akan menjadi Allah mereka,dan mereka akan menjadi umatNya. Allah akan mengampuni mereka dan tidak akan mengingat dosa mereka lagi.Penulis buku ibrani menyimpulkan (8:13) bahwa janji ini membuat perjanjian yang lama itu menjadi tua (obsolete).
    Sebelum kita menuju ke pasal 9, kita harus berhenti sejenak untuk melihat betapa indah janji ini. Janji ini mengakui kegagalan manusia.Namun janji ini menunjukan betapa anugerah Allah itu tidak membiarka manusia gagal.Allah membuat perjanjian yang baru.Ini benar-benar datang dari luar manusia itu.Keinginan Tuhan adalah menuliskan paada pikiran dan hati umat-umatNya.Dengan kata lain, mereka akan mendalami (internalize) hubungan mereka denganNya. Dan lebih dari segalanya, Dia tidak akan mengingat dosa mereka lagi.
     Manusia dapat melupakan banyak hal. Tapi, meskipun kita mudah melupakan sesuatu, kita masih sukar melupakan kesalahan atau sakit hati yang dibuat oleh orang lain kepada kita.Disinilah keunggulan Allah lebih dari kita. Dia dapat melupakan kesalahan kita dan tidak mengingat dosa kita lagi.Inilah inti dari perjanjian baru itu. Mari kita beralih ke pasal 9 untuk melihat apa lagi yang dapat kita pelajari tentang perjanjian yang baru itu. 
    Dalam lima ayat pertama, buku Ibrani berbicara tentang dua bagian dari kaabah di bumi dan peralatan yang ada di setiap bagian itu. Nampaknya penulis tidak ingin memberikan pelajaran rohani dari peralatan ini seperti yang biasanya kita buat. Malahan penulis dengan cepat beralih dari perincian peralatan itu dan mengatakan bahwa dia tidak cukup waktu untuk menguraikannya secara rinci. Dengan demikian ,disini muncul satu elemen yang membingungkan untuk diinterpretasikan.Buku Ibrani mengatakan medzbah pedupaan emas terletak dalam Bilik Maha Suci, dimana dalam Keluaran 26 dan 30 dengan jelas mengatakan terletak dalam Bilik Suci. Banyak komentator yang mencoba menjelaskannya ,tapi tak satupun berhasil. Secara sederhana kita mengakui bahwa kita tidak mempunyai alasan yang cukup untuk menjelaskan perbedaan ini.
Sangat sukar untuk mengetahui mengapa penulis nampaknya tidak tertarik untuk mengangkat pelajaran dari simbol-simbol itu seperti yang kita sering ambil dari setiap peralatan yang ada di dalam kaabah itu.Ellen White menunjukan pentingnya perincian itu seperti pedupaan melambangkan doa yang naik ke surga (patriarch and Prophets,354). Tentu saja banyak dari pelajaran ini dimengerti sebagai sejarah masa lalu orang Kristen. Banyak pelajaran yang ditarik dari sesuatu yang sementara hanyalah merupakan spekulasi atau bahkan bertentangan, jadi mungkin saja apa yang dilakukan penulis adalah bijaksana.
Setelah melewati perincian peralatan itu , Ibrani 9:6-10 menunjukan kepada kita keterbatasan sesungguhnya dari perjanjian yang lama itu. Masalah pertama adalah akses kepada Allah sangatlah terbatas. Karena Bilik Maha Suci itu adalah tempat hadirat Allah, Allah nampaknya telah hilang dari antara manusia. Secara terus menerus para imam masuk ke Bilik Suci, dan tapi hanya imam besar yang dapat masuk ke Bilik Maha Suci, dan kemudian dia hanya dapat melakukannya sekali dalam setahun, pada Hari Pendamaian. Ini dinyatakan kepada penulis buku Ibrani bahwa jalan masuk kepada Allah itu belum terbuka, selama kemah yang pertama itu atau kaabah dibumi (9:8) masih berdiri dan masih ada perjanjian pertama yang mengatur hubungan antara Allah dan manusia.
Tapi ada masalah lain juga. Apa yang ada di kaabah di bumi adalah hal luar saja, seperti makanan dan minuman  dan upacara-upacara. Bukan yang sesungguhnya, bukan dari dalam hati dan bukan dari diri mereka sendiri, tidak mengubah seseorang dari dalam, bukan kesadaran sendiri untuk berbakti(9:9,10). Sebenarnya, diharapkan dengan simbol itu dapat merubah mereka dari dalam, tapi itu tidak terjadi.
Sejauh ini telah kita lihat tiga masalah dari perjanjian yang lama itu. Dalam perjanjian itu Allah memberikan kepadabangsa Israel satu keseluruhan sistem perbaktian dengan korban dan imam dalam kaabah di bumi dimana Dia tinggal dengan mereka. Mereka telah menyetujui untuk melakukan segala sesuatu yang Allah perintahkan dan mengikuti semua peraturan peribadatan dalam kaabah (lihat Keluaran 24:7). Tapi paling sedikit ada tiba masalah yang muncul. Pertama, mereka gagal(Ibrani 8:9).Berkali-kali mereka berpaling dari janji mereka dan tidak memelihara perjanjian itu. Tapi masalah bukan hanya pada umat itu. Perjanjian itu sendiri bermasalah. Kedua, masalah antara Allah dan umatNya. Pemisahan disebabkan oleh karena dosa manusia. Tapi sekalipun kaabah, yang dirancang untuk menyatukan Allah dan manusia, tetap menunjukan ada jarak antara Allah dan umatNya dan tidak dapat menjangkau Allah. Biasanya orang tidak dapat masuk ke Bilik Suci. Dan Bilik Maha Suci, dimana hadirat Allah terlihat, hanya dapat dimasuki oleh Imam Besar, dan hanya sekali setahun. Ketiga, upacara-upacara yang hanya secara luar (external rituals) tidak mampu mengubah kesadaran seseorang untuk berbakti dari dalam dirinya sendiri.
Bagian Alkitab dalam Yeremia yang menuliskan tentang satu perjanjian yang baru telah menjanjikan satu solusi untuk tiga masalah itu. Hukum itu akan menjadi bagian dari manusia (Internal); hati manusia akan diubahkan. Ini dinyatakan untuk masalah pertama dan ketiga. Ayat-ayat itu juga menjanjikan bahwa setiap orang akan mengenal Allah secara langsung. Setiap orang, dari yang terhina hingga yang terbesar, akan memiliki pengetahuan langsung akan Allah. Tidak terbatas pada iman saja.
Sangatlah mengejutkan dimana buku Ibrani melihat dalam Yesus Kristus ada penggenapan hal-hal ini, janji tentang satu perjanjian yang baru. Ini dinyatakan dalam pasal 9:11-14 dan akan diperjelas pada materi selanjutnya.
Buku Ibrani berkata bahwa ketika Kristus datang sebagai Imam Besar, Dia masuk sekali untuk selamanya di kaabah yang lebih besar yang bukan dibuat oleh tangan manusia. Dia tidak membawa darah lembu dan kambing ke dalam kaabah ini, melainkan darahNya sendiri.Darah ini melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh darah kambing atau lembu. Darah itu memurnikan kesadaran mereka yang datang berbakti dan menjamin penebusan kekal mereka. Pada titik ini buku Ibrani tidak menjelaskan bagaimana ini terjadi; buku Ibrani hanya mengumumkan bahwa itu terjadi. Pengorbanan Kristus disalib dan masuknya Dia ke kaabah surga memberikan kita jalan masuk menghampiri Allah dan kuasa baru untuk mengubah kita. Dalam pelajaran kita selanjutnya kita akan mempelajarinya lebih jelas, juga tentang pertanyaan apakah Ibrani 9:12 menyatakan Yesus masuk dalam Bilik Suci atau Bilik Maha Suci. Dalam hal ini kita hanya perlu pahami bagaimana kedua perjanjian itu berbeda.
Dalam buku Ibrani perbedaan antara dua perjanjian ini berbeda dengan perbandingan yang Paulus nyatakan dalam Galatia. Disana penekanan dibuat pada keabsahan perjanjian lama dan perjanjian baru yang berdasarkan anugerah. Tapi dalam buku Ibrani fokusnya pada jalan masuk kepada Allah dan perubahan dalam diri seseorang. Perjanjian yang lama dengan kaabah di bumi, melambangkan jarak antara Allah dan manusia, Yesus menghancurkan pemisah dan menuntun kita dengan keberanian menghampiri hadirat Allah. Upacara-upacara di perjanjian yang lama, selain mengandung pelajaran, tidak memiliki kuasa untuk mengampuni dan mengubah hati secara internal. Sementara Kristus dapat mengampuni dan menyelamatkan. Jadi dalam perjanjian yang lama, umatNya setuju untuk menuruti hukum Allah dan beribadah melalui upacara-upacara di kaabah di bumi, dan Allah setuju untuk menjadi Allah mereka. Dalam perjanjian yang baru Allah mengambil inisiatif untuk mengirimkan AnakNya sendiri menjadi korban yang memberikan pengampunan kepada kita, membuka jalan untuk kita menghampiri Hadirat Allah, dan mengubah kita dari dalam.
Ada kuasa yang mengubahkan dalam pengampunan Kristus. Ketika kita mengalami pengampunan, pengampunan itu akan mengubah hidup kita. Seperti pengalaman Dr.Marthin Luther King senior yang mengalami pengampunan dari Allah dan mengampuni orang yang telah membunuh isterinya. Ia berkata “God has been too good to me for me to hate. I don’t want revenge. God has been too good to me for me to hate.”[Allah telah sangat baik bagi saya, mengapa saya harus membenci. Saya tidak ingin membalas dendam. Allah telah sangat baik bagi saya]

Demikian perjanjian yang baru itu. Perjanjian itu bekerja dalam diri seseorang untuk mengampuni, menyucikan, dan mengubahkan. Perjanjian itu membuat kita sangat menghargai anugerah Allah sehingga kita juga memberikan anugerah (begitu baik) kepada orang lain.               

Kontak Jawaban

Nama

Email *

Pesan *

2014 © SLAPUR - Purwodadi
Jawa Timur Indonesia